“Mohon Pamit, Semeton Lombok Tengah. Kini Saya Melanjutkan Perjalanan”

Alfa Dera, Kasi Intel Kejari Lombok Tengah, pindah tugas ke Yogyakarta.

Oleh: Alfa Dera
Kasi Intel Kejari Lombok Tengah

SENIN, 30 Maret 2026 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan pengabdian saya. Hari itu saya dilantik sebagai Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lombok Tengah.

Saya datang sebagai pelayan masyarakat di bidang hukum, membawa amanah untuk bekerja, mendengar, dan berusaha memberi manfaat.

Sejak awal, niat saya sederhana: berbuat baik, mendorong perbaikan, menjaga amanah, dan membangun silaturahmi dengan orang-orang baik di Lombok Tengah.

Baca juga: Jaksa Bidik Dugaan Korupsi Aset Daerah Loteng

Bagi saya, jabatan bukan sesuatu untuk dibanggakan. Jabatan adalah amanah yang suatu saat akan selesai. Yang semoga tetap tinggal adalah manfaat dan kebaikan yang pernah kita lakukan.

Selama di Lombok Tengah, saya meyakini hukum tidak boleh hanya hadir untuk mencari kesalahan dan menghukum. Hukum harus mampu mencegah, mengingatkan, memperbaiki, dan menghadirkan keadilan.

Karena itu, penegakan hukum harus profesional, proporsional, dan bermartabat. Perkara tidak seharusnya berhenti pada penindakan atau vonis, tetapi harus meninggalkan pelajaran dan mendorong perubahan.

Salah satu yang kami dorong adalah pembenahan tata kelola penerimaan daerah. Melalui keterbukaan data dan sinergi pemerintah daerah, Kejaksaan, PLN, serta berbagai pihak, terlihat masih banyak potensi PAD yang dapat dioptimalkan.

Baca juga: Kejari Loteng Kembalikan Rp3,1 Miliar Uang Negara dari Tangan Koruptor. 

Penerimaan yang sebelumnya berada di kisaran Rp30–31 miliar memiliki peluang meningkat hingga sekitar Rp38–40 miliar. Pada pertengahan tahun, penerimaan bahkan telah mencapai sekitar Rp18 miliar.

Bagi saya, angka itu bukan sekadar angka. Di balik setiap rupiah ada pembangunan, pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, dan kepentingan masyarakat.

Begitu pula dengan Mandalika, pariwisata, investasi, pajak, aset, dan tanah. Lombok Tengah sedang tumbuh sangat cepat. Namun pertumbuhan harus membawa manfaat bagi masyarakat lokal.

Investasi tentu kita butuhkan. Tetapi investasi yang baik adalah investasi yang tumbuh bersama masyarakat, bukan yang membuat masyarakat kehilangan ruang di tanahnya sendiri.

Lombok boleh semakin maju, tetapi jangan sampai masyarakat Sasak justru menjadi tamu di rumah sendiri. Adat, budaya, kearifan lokal, tanah, dan martabat masyarakat harus tetap menjadi bagian dari pembangunan.

Baca juga: Tunggakan Pajak Hotel Dibongkar, Kejari Loteng Selamatkan Rp2,16 Miliar 

Ada satu hal yang ingin saya titipkan kepada para aparatur, media, LSM, dan kita semua: jangan takut transparan dan jangan alergi terhadap kritik.

Kritik yang baik bukan serangan. Ia adalah cermin dan alarm agar kita tidak lupa diri ketika memiliki jabatan, kewenangan, harta, atau kekuasaan.

Jangan sampai karena memiliki kuasa kita merasa paling benar. Jangan sampai karena memiliki jabatan kita merasa tidak membutuhkan orang lain.

Media yang kritis, masyarakat yang peduli, LSM yang konstruktif, dan rekan kerja yang berani mengingatkan bukanlah musuh. Mereka adalah bagian dari pengawasan sosial agar kita tetap berada di jalan yang benar.

Mari saling mengingatkan tanpa saling menjatuhkan. Saling mengawasi tanpa merasa paling hebat. Karena pada akhirnya jabatan akan berganti, kekuasaan akan berakhir, dan harta akan ditinggalkan.

Baca juga: Sektor Parkir Sumbang PAD Rp 9 ribu Per Lokasi Untuk Lombok Tengah? Saatnya Berbenah!

Yang tersisa adalah kebaikan apa yang pernah kita tinggalkan.

Selama di Lombok Tengah, tentu banyak kekurangan dan kekhilafan saya. Ada kata yang mungkin kurang tepat, sikap yang mungkin tidak berkenan, dan pekerjaan yang belum selesai. Untuk itu, saya mohon maaf.

Kini saya melanjutkan perjalanan pengabdian ke Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tidak mudah meninggalkan Lombok. Dalam waktu yang singkat, tanah ini telah memberikan begitu banyak cerita, pengalaman, dan persaudaraan.

Terima kasih kepada para tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, rekan-rekan media, LSM, aparat penegak hukum, insan Kejaksaan, pelaku usaha, dan seluruh sahabat yang telah berjalan bersama saya.

Terima kasih atas kepercayaan, dukungan, kritik, persaudaraan, dan setiap kebaikan yang mungkin belum sempat saya balas.

Baca juga: Jelang Pilkades, Kejari Desak Inspektorat Audit Dana Desa

Saya mungkin meninggalkan Lombok secara fisik, tetapi sebagian kenangan saya akan tetap tinggal di sini. Jika suatu hari kita bertemu kembali, jangan anggap saya sebagai orang yang pernah pergi. Anggap saja saya sebagai seorang sahabat yang pernah dititipkan Allah SWT untuk singgah sebentar di Lombok.

Saya datang membawa amanah. Saya pulang membawa cerita, pengalaman, dan persaudaraan. Saya pamit bukan untuk melupakan Lombok, tetapi untuk melanjutkan perjalanan pengabdian.

Jaga Lombok.
Jaga persaudaraan.
Jaga budaya.
Jaga tanah ini agar tetap menjadi rumah yang nyaman bagi anak cucu kita.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Lombok Tengah dan Nusa Tenggara Barat dalam kedamaian, kemajuan, persaudaraan, dan keberkahan.

Mohon pamit dan undur diri, semeton Lombok Tengah. Sampai jumpa kembali.*** (Editor: Tim Redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup