Mengubah Krisis Menjadi Optimis: Kembalikan Parlemen Sebagai Corong Perubahan!

Rapat DRPD Lombok Tengah (photo oleh internal).

Oleh: Ahmad Syamsul Hadi

Penulis merupakan politikus Lombok Tengah yang saat ini menjabat sebagai Ketua Komisi I DPRD Lombok Tengah. Selain itu mantan Eksekutif Nasional Walhi dan alumni FMN Mataram ini juga mengemban tugas kepartaian sebagai Ketua DPD Partai NasDem Lombok Tengah. Di tengah kesibukan di parlemen, Ahmad Syamsul Hadi saat ini juga sedang menyelesaikan Magister Hukum di Universitas Mataram.

Diktum politik adalah tindakan kolektif di ruang publik untuk seluas-luas dan sebanyak-banyaknya kepentingan publik.

Dewasa ini, bahkan pada masa perkembangan terkini, parlemen yang dimaksud tersebut sesungguhnya sedang berada di bibir jurang. Kepercayaan rakyat terhadap lembaga ini sudah terdegradasi sedemikian jauh rapuh.

Hal ini tentu juga berakibat pada kerja politik dan kedudukan parlemen sebagai bagian dari pemerintahan. Secara periodik, bahkan jika di runut dari pemilu ke pemilu, lembaga ini semakin terpuruk.

Kasus aksi demontrasi pada akhir Agustus 2025 lalu memperlihatkan betapa parlemen dalam marwah yang terjerembab. Ada sebuah krisis kepercayaan dari rakyat bahwa parlemen bukanlah sebenar-benar mewakili suara mereka.

Tidaklah  jadi heran kemudian jika akhirnya rakyat menganggap parlemen (DPR dan DPRD) hanyalah sekadar bagian dari ruang kekuasaan untuk sebagian kelompok semata.

Berkaca pada keadaan tersebut, parlemen sesungguhnya harus mulai berbenah terutama pada level disiplin kerja. Perubahan dari kerja biasa-biasa menjadi luar biasa. Karena jika tidak maka tantangan yang lebih berat akan muncul seiring dengan kecepatan perkembangan dunia saat sekarang ini.

Krisis Kepercayaan

Pada tahun 1998 gelombang protes mencapai puncaknya. Rakyat menuntut adanya perubahan yang mendasar dari semua sisi. Korupsi harus diberantas sampai ke akar-akarnya, nepotisme tak boleh lagi jadi tontonan keseharian masyarakat, dan perubahan sosial yang paling mendasar yakni kesejahteraan dan kemakmuran rakyat harus diwujudkan.

Dewan Perwakilan Rakyat menjadi tumpuan banyak pihak, sebagai corong yang menjadi penyalur suara rakyat, pemanggul kehendak rakyat, sebagai pengubah keadaan.

Berdasarkan temuan survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis pada 27 Januari 2025, tingkat kepercayaan terhadap DPR hanya 69 persen. DPR berada di peringkat ke-10 dari 11 lembaga. Posisi terakhir adalah partai politik yang hanya mendapat 62 persen kepercayaan.

Survei tersebut sekali lagi menegaskan bahwa parlemen dan partai politik yang menjadi ruhnya harus segera berbenah. Situasi harus dipulihkan dan dikembalikan ke tujuan awal parlemen (termasuk partai politik) ini dibentuk dan didirikan.

Bangkit Kembali

Gelombang protes sesungguhnya adalah lonceng peringatan bahwa kerja legislasi harus menjadi prioritas. Demikan pula dengan kerja-kerja pengawasan dan anggaran yang memang di hajatkan kepada pembangunan masyarakat banyak.

Partai di Lombok Tengah (harus) membaca semua yang terjadi sebagai sebuah tanggung jawab. Genta peringatan itu menjadi penanda bahwa pun Partai NasDem Lombok Tengah harus segera evaluasi diri.

Momentum yang terjadi di 2025 ini memberi koreksi bahwa partai politik dan unsurnya di parlemen haruslah semakin turun menukik di tengah-tengah masyarakat. DPRD Lombok Tengah sebagai perpanjangan tangan partai harus bisa mengimplementasikan nilai-nilai dan arah perjuangan partai yang tentu bercita-cita untuk kemajuan daerah dan sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Pendapat kami, bahwa salah satu hal mendasar yang harus diperbaiki adalah pola kerja. Lombok Tengah tidak akan bisa berlari kencang jika tidak ada kemajuan dalam bekerja.

Peningkatan kapasitas perangkat kerja, alat penunjang kerja, haruslah menjadi hal penting dan mendesak untuk di tingkatkan secara berkala, terus diperbaharui dan disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan.

Kita tidak akan bisa memperbaiki banyak hal jika kita sendiri belum cukup baik dalam bekerja. Disiplin, integritas, dan terus belajar.

Kekayaan sumber daya alam kita, harus presisi dengan sumber daya manusia yang hebat dan kokoh. Agar cita-cita kemajuan dan kesejahteraan untuk perubahan yang lebih baik bisa menapaki jalannya.***

 

*Kolom Citizen Journalism merupakan ruang yang disediakan oleh Jurnal Mandalika kepada publik dalam ikut berpartisipasi menyumbangkan opininya lewat tulisan. Tim redaksi berhak menyunting tulisan tanpa mengurangi maksud dan tujuan penulis. Semua isi tulisan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup