Polisi Sisir TKP Kebakaran Kampung Sade, Penyebab Masih Misteri

LOTENG— Kobaran api yang melanda Kampung Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, menyisakan duka sekaligus tanda tanya besar.

Hingga kini, penyebab pasti kebakaran yang menghanguskan sejumlah bangunan di kawasan permukiman adat tersebut masih menjadi misteri.

Untuk mengungkap sumber dan pemicu kebakaran, Kepolisian Resor Kota (Polresta) Loteng bersama tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Polda NTB dan Polres Loteng turun langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Proses penyelidikan dilakukan secara menyeluruh. Petugas terlihat mengabadikan kondisi lokasi, memeriksa sejumlah titik yang terdampak kebakaran, serta mengumpulkan keterangan dari warga dan korban yang berada di sekitar lokasi saat kejadian.

Garis polisi juga telah dipasang di sejumlah bagian kawasan yang terbakar. Area tersebut untuk sementara diamankan agar tidak terganggu dan memudahkan tim penyidik melakukan identifikasi serta mencari petunjuk yang dapat membantu mengungkap penyebab kebakaran.

Sejumlah pejabat daerah turut mendatangi lokasi untuk melihat langsung kondisi warga dan kawasan permukiman adat tersebut. Di antaranya Bupati, Lalu Pathul Bahri, Wakil Bupati HM Nursiah, jajaran TNI-Polri serta sejumlah pejabat pemerintah daerah.

Kapolresta Loteng Kombes Hariyanto mengatakan, proses penyelidikan masih berlangsung. Pihak kepolisian belum mau berspekulasi mengenai sumber api sebelum hasil pemeriksaan tim identifikasi keluar.

“Tim gabungan dari Polda dan Polres. Kemudian rencananya kita minta backup dari Bali,” kata Hariyanto saat meninjau lokasi.

Menurutnya, pemeriksaan di lokasi menjadi bagian penting dalam menentukan dari mana api pertama kali muncul dan bagaimana kebakaran tersebut bisa berkembang. Karena itu, pihaknya meminta masyarakat menunggu hasil identifikasi resmi dari petugas.

“Sampai sekarang belum. Nanti tunggu dari hasil ini,” tegasnya.

Polisi, lanjut Hariyanto, juga tidak hanya berfokus pada penyelidikan. Sejak malam hingga hari berikutnya, sekitar satu kompi atau kurang lebih 100 personel gabungan dikerahkan ke lokasi.

Personel tersebut berasal dari unsur TNI-Polri dan pemerintah daerah. Mereka disiagakan untuk membantu proses evakuasi, mengamankan lokasi, mengatur situasi serta memastikan kawasan terdampak tetap terkendali.

Kehadiran aparat dalam jumlah besar menunjukkan bahwa penanganan pascakebakaran tidak hanya menyangkut persoalan penyelidikan, tetapi juga menyangkut keselamatan warga yang kehilangan tempat tinggal maupun harta benda.

Di tengah proses penyelidikan, Pemerintah Kabupaten Loteng bergerak cepat menangani kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Bupati Loteng Lalu Pathul Bahri memastikan warga korban kebakaran mendapatkan perhatian, terutama dalam aspek kesehatan dan pendidikan.

Pathul mengatakan, pemerintah bersama jajaran TNI-Polri dan seluruh organisasi perangkat daerah telah melakukan pembahasan untuk menentukan langkah penanganan setelah kebakaran.

“Hari ini kita sudah diskusi dengan Pak Dandim, Kapolres, Pak Wabup dan seluruh dinas terkait tentang masalah ini,” ujarnya.

Pemkab kini memprioritaskan kebutuhan warga yang terdampak langsung. Salah satunya dengan menyiapkan tenda darurat serta logistik di sekitar Kantor Desa Rembitan.

Selain kebutuhan pangan dan tempat berlindung, pemerintah juga menaruh perhatian terhadap kondisi psikologis warga, terutama anak-anak yang mengalami trauma akibat peristiwa tersebut.

Pendampingan trauma healing disiapkan melalui Dinas Kesehatan. Langkah tersebut dianggap penting karena kebakaran bukan hanya meninggalkan kerugian material, tetapi juga dapat memberikan tekanan psikologis bagi warga yang menyaksikan langsung musibah.

Di sektor pendidikan, Dinas Pendidikan Lombok Tengah juga mulai melakukan pendataan terhadap siswa yang terdampak. Pemerintah ingin memastikan anak-anak korban kebakaran tetap mendapatkan hak pendidikan meskipun kondisi tempat tinggal mereka berubah akibat musibah.

“Dinas Pendidikan juga mendata jumlah siswa yang terdampak. Semuanya ambil bagian,” kata Pathul.

Persoalan kesehatan juga menjadi perhatian serius pemerintah. Pasalnya, sebagian warga mulai berpindah dan mengungsi ke rumah keluarga maupun kerabat.

Kondisi tersebut membuat pemerintah harus mengantisipasi munculnya persoalan kesehatan di lokasi pengungsian maupun tempat warga menumpang sementara.

Pathul mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Pemerintah tidak ingin musibah kebakaran kemudian diikuti persoalan kesehatan masyarakat akibat kondisi sanitasi dan kepadatan tempat tinggal sementara.

“Karena masyarakat sudah bergeser ke rumah-rumah penduduk maka ini menjadi perhatian juga. Karena ini terkait dengan kesehatan,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengalaman penanganan bencana sebelumnya menjadi pelajaran penting bagi pemerintah. Salah satu persoalan yang harus diantisipasi adalah munculnya penyakit seperti muntaber ketika warga berkumpul di tempat penampungan atau berpindah ke lingkungan yang fasilitas sanitasinya terbatas.

Karena itu, selain mendistribusikan bantuan dan menyediakan tempat penampungan, pemerintah juga mulai melakukan identifikasi warga terdampak untuk memastikan seluruh kebutuhan mereka dapat ditangani.

Sementara terkait penyebab kebakaran, Pathul menegaskan pemerintah menyerahkan sepenuhnya proses tersebut kepada aparat penegak hukum.

“Ini sedang diidentifikasi oleh pihak Inafis Polda NTB dan Polres Lombok Tengah. Kita fokus penanganan dulu,” tegasnya.

Dengan olah TKP yang masih berlangsung, publik kini menunggu hasil pemeriksaan tim gabungan. Polisi diharapkan dapat segera mengungkap titik awal api sekaligus memastikan apakah kebakaran tersebut murni kecelakaan atau terdapat faktor lain yang harus ditindaklanjuti.

Untuk sementara, kawasan terdampak masih dalam pengawasan aparat. Pemerintah juga terus bergerak memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi sembari menunggu proses identifikasi dan penyelidikan kepolisian rampung.

Kebakaran di kawasan Desa Adat Sade tersebut menjadi perhatian besar karena lokasi itu bukan sekadar permukiman warga, tetapi juga merupakan kawasan adat dan bagian penting dari wajah pariwisata Lombok Tengah. Karena itu, penanganan pascakebakaran tidak hanya menyangkut pemulihan warga, tetapi juga upaya menjaga keberlangsungan kawasan adat dan aktivitas masyarakat di dalamnya. (01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup