Kisah Kemanusiaan dari Lombok Timur, Bripka Agus Salim: Ini Tidak Sekadar Tugas

Bripka Agus Salim (tengah) saat mengurus almarhum Abdul Rahim (Foto: istimewa).

LOMBOK TIMUR— Ditengah pelbagai isu dan kritik yang selama ini mendera institusi kepolisian, kisah tentang Agus Salim, seorang Brigadir Kepala Polisi (Bripka) yang bertugas di Polsek Pringgabaya, Lombok Timur ini seperti menjadi sebuah oase.

Apa yang dilakukan oleh Bhabinkamtibmas Desa Bagek Papan ini memang tidak hanya sebuah narasi tentang tugas seorang polisi, namun juga melampaui sisi rasa kemanusiaan kita. Ia membantu seorang perantau yang sakit tanpa sanak saudara, mengurusnya di rumah sakit, hingga memakamkannya.

Dihubungi Jurnal Mandalika lewat saluran telepon, Bripka Agus menceritakan awal perihal ia berjumpa dengan Abdul Rahim, perantau dari Brebes, Jawa Tengah.

“Hari Kamis itu, 19 Maret lalu sekira pukul lima sore (17.00 Wita) saya sedang di kantor (Polsek Pringgabaya). Tiba-tiba ada datang seorang lelaki, pakai tongkat bambu. Saya hampiri. Ia mengaku bernama Abdul Rahim. Saya tanya mau cari siapa?” katanya mengawali cerita.

Lanjut Bripka Agus, si bapak (Abdul Rahim) itu menjawab bahwa ia sedang sakit dan kemudian membuka sarungnya.

“Kita yang sedang piket kaget sekali, karena melihat kondisi lukanya. Bapak itu cerita tersiram air panas bakso,” ucap Bripka Agus.

Baca juga: Idul Fitri Berubah Jadi Duka di Alas, DPC PDIP Sumbawa Salurkan Bantuan

Dari penjelasannya kemudian, Abdul Rahim bercerita ia berasal dari Brebes (Jawa Tengah) dan bekerja di salah satu usaha bakso warga Dusun Semaya Desa Pringgabaya Utara. Seminggu sebelumnya ia mengalami musibah tersiram air panas bakso sehingga badannya melepuh.

Saat ditanya perihal keluarga, Abdul Rahim menjawab ia tidak punya keluarga di Lombok.

“Merantau ke Lombok sekitar tujuh tahun yang lalu. Di Brebes dulu punya istri dan sudah cerai, ada anaknya satu tapi dia tidak tahu kemana anaknya itu pergi,” cerita Bripka Agus mengulangi kalimat Abdul Rahim.

Tidak berpikir panjang dan merasa kasihan dengan kondisinya yang luka, Bripka Agus menghubungi Puskesmas Pringgabaya untuk meminta menjemput dengan bantuan ambulans.

“Ternyata sesampai di puskesmas, si bapak itu tidak bisa dirawat di sana. Menurut keterangan petugas harus di rujuk ke RSUD Soedjono di Selong. Saya sempat bengong, tarik nafas. Saya berpikir kalau dirujuk ke Selong, nanti siapa yang jaga disana. Tapi sekali lagi, saya berpikir kasihan bapak ini. Akhirnya saya sanggup untuk di bawa ke RSUD Soedjono. Malam itu juga saya bersama petugas puskesmas membawanya ke Selong,” jelas Bripka Agus.

Namun kebingungan kembali berlanjut setelah pasien tersebut sampai di UGD Rumah Sakit. Petugas bertanya tentang keluarga Abdul Rahim sebab pihak rumah sakit memerlukan orang atau pihak sebagai penanggung jawab pasien.

“Iya saya bilang pasien ini tidak punya keluarga satu pun di Lombok. Akhirnya karena harus segera ditangani, saya kemudian jadi penanggung jawabnya,” kenang Bripka Agus mengingat saat-saat itu.

Keesokan harinya, 20 Maret 2026 selesai sholat Jum’at, Abdul Rahim menjalani operasi kulit dan setelahnya mendapat perawatan untuk pemulihan dirumah sakit. Selama masa itu, Bripka Agus setiap hari atau malam selalu mengunjungi Abdul Rahim dan membawakan sekadar makanan dan minuman.

“Alhamdulillah, kondisi lukanya kemudian mengering,” katanya.

Tapi kondisi berubah, seminggu kemudian kondisi pasien memburuk dan muncul penyakit baru yang dimana menurut dokter disebabkan oleh bakteri dari luka bakarnya yang menyerang syaraf otak.

“Itu membuat kondisinya melemah. Jadi malam Jumat itu juga Pak Abdul Rahim dimasukkan ke ruang ICU. Saya mendampingi dan menandatangani persetujuan untuk dilakukan tindakan pengobatan oleh dokter. Dan malam itu saya menginap di ICU,” ulang Bripka Agus bercerita.

Baca juga: Di Tengah Ancaman Krisis Sosial dan Kepercayaan, Tradisi Silaturahmi Jadi Pilar Ketahanan

Usaha maksimal yang dilakukan Bripka Agus Salim rupanya sudah sampai di ujung. Keesokan pagi sekitar pukul 06.30 Wita, Abdul Rahim meninggal dunia.

“Saya kebingungan. Jumat pagi itu sempat saya gemetar, cemas harus berpikir cepat. Saya mau bawa kemana jenasahnya Pak Abdul Rahim. Saya kemudian ingat masih simpan nomor Pak Haji Suroto, mantan kadis sosial Lombok Timur. Saya lalu hubungi beliau untuk meminta arahan terkait proses jika ada kondisi seperti saat ini,” lanjut Bripka Agus.

Dari hasil telepon itu, mantan Kadis Suroto menjelaskan aturan terkait pengurusan dan pemakaman orang terlantar.

“Saya diminta menghubungi Camat Pringgabaya, karena menurut beliau sesuai aturan jika ada orang terlantar dan tidak punya keluarga harus dikuburkan sesuai tempat alamat KTP-nya,” kisah Bripka Agus sambil menghela nafasnya.

Dari hasil koordinasi itu kemudian akhirnya ia bersama pihak kantor Camat Pringgabaya dan pemerintah Desa Pringgabaya Utara beserta masyarakat Dusun Semaya secara bersama-sama mempersiapkan segala keperluan pemakaman.

Setelah selesai sholat Jumat, Abdul Rahim kemudian dimakamkan.

Diujung kisah, Bripka Agus menceritakan bahwa Abdul Rahim mengatakan ia sempat menikah lagi di Lombok tapi kemudian bercerai dan pernikahannya itu tidak mempunyai anak.

“Pas ia di rawat, saya sempat buka HP-nya tapi tidak menemukan petunjuk yang mengarah kepada salah satu nomor atau keterangan terkait keluarga. Jadi sepertinya almarhum itu betul-betul sendiri. Saya berpikir ini bukan cuma sekedar tugas saya sebagai polisi, tapi ini saya betul-betul iba. Ndak tega saya kalau tidak di urus,” tegas Bripka Agus mengakhiri kisahnya kepada Jurnal Mandalika.*** (Kontributor: JW).

Catatan Redaksi:

Kisah Bripka Agus Salim membuka hati kita, bahwa kita akan selalu menemukan orang baik yang melakukan sesuatu dengan rasa kemanusiaan yang tulus. Semoga Bripka Agus Salim selalu mendapat kemudahan dalam bertugas. Semoga pula Bripka Agus beserta keluarga senantiasa sehat dalam lindungan Yang Maha Kuasa, aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup