500 Penenun Meriahkan Pembukaan Begawe Jelo Nyensek Desa Sukarara
LOTENG – Suara hentakan alat tenun tradisional berpadu dengan semangat ratusan penenun mewarnai pembukaan Regional Event Budaya Seni Sukarara Begawe Jelo Nyensek 2026 di Balai Seni dan Budaya Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, kemarin.
Sebanyak 500 penenun tampil bersama dalam sebuah atraksi budaya yang menjadi simbol kuat upaya menjaga warisan leluhur sekaligus mengangkat potensi ekonomi kreatif berbasis tenun tradisional Sasak.
Memasuki penyelenggaraan yang kedelapan, Begawe Jelo Nyensek tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi telah berkembang menjadi ruang promosi budaya, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ribuan masyarakat, tamu undangan, pelaku seni, hingga wisatawan memadati lokasi untuk menyaksikan salah satu tradisi yang menjadi kebanggaan Lombok Tengah tersebut.
Sejak pagi, kawasan Balai Seni dan Budaya Sukarara dipenuhi aktivitas para penenun yang mengenakan busana adat. Mereka duduk berjajar mengoperasikan alat tenun bukan mesin (ATBM), memperlihatkan keterampilan yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun. Atraksi tersebut menjadi daya tarik utama yang memukau para pengunjung.
Kepala Desa Sukarara, H. Saman Budi, mengatakan Begawe Jelo Nyensek merupakan bentuk komitmen masyarakat dalam menjaga tradisi menenun agar tidak tergerus perkembangan zaman. Menurutnya, Pemerintah Desa akan terus menjadikan kegiatan tersebut sebagai agenda rutin tahunan.
“Kami bertekad untuk terus melaksanakan kegiatan ini setiap tahun sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya warisan leluhur. Menenun bukan hanya pekerjaan bagi masyarakat Sukarara, tetapi juga menjadi identitas yang harus terus dijaga,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagian besar perempuan di Desa Sukarara memiliki kemampuan menenun sejak usia muda. Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, pelestarian budaya harus dilakukan melalui keterlibatan langsung masyarakat, terutama generasi muda.
Menurutnya, keberadaan festival budaya seperti Begawe Jelo Nyensek juga memberi dampak positif terhadap sektor ekonomi. Selain meningkatkan kunjungan wisatawan, kegiatan tersebut membuka peluang lebih besar bagi para perajin untuk memasarkan hasil tenun mereka ke pasar yang lebih luas.
Sementara itu, mewakili Gubernur NTB, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB Muhammad Ihwan memberikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Sukarara, Pemerintah Kecamatan Jonggat, dan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah yang secara konsisten menjaga eksistensi kegiatan budaya tersebut.
Ia menilai, Begawe Jelo Nyensek memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar festival tenun. Kegiatan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap perempuan Sasak yang selama ini menjadi penjaga utama tradisi menenun sekaligus penjaga identitas budaya daerah.
“Tradisi menenun adalah kekayaan budaya yang tidak ternilai. Melalui kegiatan ini, kita menunjukkan bahwa budaya lokal mampu menjadi kekuatan dalam membangun karakter masyarakat sekaligus menggerakkan perekonomian,” katanya.
Menurut Ihwan, tenun tradisional Sasak memiliki nilai seni, filosofi, dan sejarah yang sangat tinggi. Karena itu, pelestarian budaya harus terus didukung melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan dunia pendidikan agar tetap lestari di tengah arus modernisasi.
Wakil Bupati Lombok Tengah H. M. Nursiah juga menegaskan bahwa Desa Sukarara telah lama dikenal sebagai sentra tenun terbesar di Lombok Tengah yang memberikan kontribusi besar terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.
Ia mengatakan, tenun Sukarara bukan sekadar produk kerajinan tangan, tetapi telah menjadi ikon budaya yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Keberadaan para penenun menjadi bagian penting dalam menjaga citra Lombok Tengah sebagai daerah yang kaya akan tradisi.
“Tradisi menenun ini adalah warisan leluhur yang harus terus kita jaga, kembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Budaya inilah yang menjadi salah satu kekuatan daerah dalam membangun sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat,” ujar Nursiah.
Ia berharap Begawe Jelo Nyensek terus berkembang menjadi agenda budaya berskala nasional bahkan internasional. Dengan demikian, promosi tenun khas Sukarara dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan kesejahteraan para perajin.
Selain menjadi ajang pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal proses pembuatan kain tenun tradisional yang sarat makna dan filosofi. Pemerintah berharap semakin banyak anak muda yang tertarik mempelajari keterampilan menenun sehingga tradisi tersebut tetap hidup di masa mendatang.
Penyelenggaraan Regional Event Budaya Seni Sukarara Begawe Jelo Nyensek 2026 kembali menegaskan posisi Desa Sukarara sebagai salah satu pusat tenun tradisional terbaik di Nusa Tenggara Barat. Melalui semangat kebersamaan 500 penenun, masyarakat Sukarara membuktikan bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga modal penting untuk membangun masa depan yang lebih sejahtera melalui pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. (01)




