Sinopsis Pesta Babi, Film Kritik Atas Papua: Siapa Produsernya?

Capture gambar dari trailer film Pesta Babi (sumber: Youtube).

KONTROVERSI, JM— Paska batalnya pemutaran film Pesta Babi pada Kamis (07/05/2026) lalu dalam kegiatan nonton bareng (nobar) mahasiswa Universitas Mataram (Unram), dimana acara dibubarkan karena disebut belum mendapat izin pihak kampus, film dokumenter investigasi tersebut langsung viral di pelbagai platform media sosial.

Rasa penasaran banyak orang kemudian menjadi bahan perbincangan di linimasa. Tapi sebenarnya apa isi film Pesta Babi tersebut? Jurnal Mandalika merangkum keterangan dan sinopsisnya dari beberapa sumber.

Sinopsis dan Sosok Pembuat Film

Film Pesta Babi merupakan sebuah film dokumentar hasil garapan Dhandy Dwi Laksono, seorang jurnalis yang cukup terkenal dengan jurnalisme investigasi dan karya tulisnya. Ia memulai kariernya pada 1998 di tabloid Kapital dan majalah Warta Ekonomi sebelum akhirnya beralih ke media radio hingga menjadi stringer di radio ABC Australia.

Alumnus Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Bandung, yang mendirikan studio dokumenter Watch Doc ini dikenal untuk film dokumenter, Sexy Killer yang dirilis sebelum Pemilu 2019. Film ini sendiri mendokumentasi kolusi antara elit politik dan industri pertambangan batu bara yang dianggapnya bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan.

Baca juga: Tolak Pilkada dan Pileg Daerah Disatukan, Mi6 Sebut Efisiensi Biaya Bukan Argumen Demokrasi

Pesta Babi sendiri mengambil latar wilayah Papua Selatan, terutama di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Dokumenter tersebut menggambarkan bagaimana hutan-hutan adat dibuka untuk proyek bioetanol dan ketahanan pangan dalam skala besar.

Dengan durasi total sekitar 95 menit atau 1 jam 35 menit, film Pesta Babi dibangun dengan narasi yang cukup keras karena menyebut situasi tersebut sebagai bentuk “kolonialisme modern” atas Papua.

Film juga menyoroti dugaan militerisasi dalam pengamanan proyek-proyek investasi di kawasan tersebut. Di sisi lain, masyarakat lokal merasa tersingkir dari tanah leluhur mereka sendiri.

Salah satu simbol penting dalam film adalah pemasangan “salib merah” oleh warga adat sebagai bentuk penolakan terhadap perusahaan dan penguasaan lahan.

Baca juga: Roi Pantai Serangan Jadi Kolam? Lalu Galih: Ini Bukan Pembangunan, tapi Pengrusakan!

Sepanjang film, penonton diperlihatkan dampak ekspansi lahan terhadap lingkungan dan kehidupan warga lokal. Mulai dari hilangnya hutan adat, ancaman terhadap sumber pangan tradisional, hingga kekhawatiran masyarakat atas masa depan generasi mereka.

Dokumenter tersebut juga menyoroti konflik antara kepentingan pembangunan nasional dan hak masyarakat adat yang merasa ruang hidupnya semakin terdesak.

Sebagai film dokumenter, Pesta Babi tidak menghadirkan aktor utama layaknya film layar lebar fiksi. Tokoh-tokoh yang tampil dalam film merupakan masyarakat adat Papua dan pihak-pihak yang disebut mengalami langsung dampak perubahan di wilayahnya.

Kenapa Judulnya Pesta Babi?

Judul “Pesta Babi” diambil dari tradisi budaya masyarakat Muyu bernama Awon Atatbon, sebuah ritual adat besar yang melibatkan babi sebagai simbol sosial dan budaya. Tradisi itu bergantung pada keberlangsungan hutan dan alam Papua.

Karena itu, film tersebut memakai istilah “Pesta Babi” sebagai metafora bahwa kerusakan hutan juga mengancam identitas budaya masyarakat adat.

Baca juga: Banyak Villa Bodong, PAD Bocor, Pemda Ompong

Setidaknya ada beberapa faktor utama yang sepertinya membuat film ini kontroversial dan mendapat atensi penuh dari pemerintah, diantaranya:

  1. Film secara terbuka mengkritik proyek strategis nasional pemerintah.
  2. Ada narasi soal “kolonialisme” dan eksploitasi Papua.
  3. Film menyinggung keterlibatan aparat dan militer dalam pengamanan proyek.
  4. Isi dokumenter dianggap terlalu politis dan provokatif oleh sebagian pihak.

Tak hanya diputar di Indonesia, Pesta Babi juga telah dipresentasikan dalam sejumlah forum internasional, termasuk pemutaran di Sydney, Australia, yang membahas persoalan hak masyarakat adat Papua.*** (Editor: Tim Redaksi).

Sumber Rangkuman:
Kompas.com
Kabarjawa.com
Mistar.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup