Perumahan Premium GPA Rawan Maling, Warga Kecewa Anggap Pengembang Abai Keamanan
MATARAM— Warga penghuni Perumahan Griya Pesona Alam Sayang-Sayang, Kecamatan Lingsar di Lombok Barat mengeluhkan seringnya terjadi kasus pencurian di lingkungannya. Lemahnya sistem keamanan yang disediakan oleh pihak pengembang dianggap menjadi salah satu sebab kawanan pencuri itu mudah beraksi.
Peristiwa terbaru terjadi pada Rabu malam (29/04/2026) sekira pukul 22.30 Wita, dimana salah satu penghuni perumahan, Ahmad Amrullah, kehilangan sejumlah peralatan kerja dari gudang rumahnya yang masih dalam tahap pembangunan.
Ironisnya, barang-barang tersebut baru sekitar satu minggu dipindahkan ke lokasi, namun justru raib digondol pelaku. Selain kehilangan alat seperti genset, jack hammer, gerinda, dan pompa air, pelaku juga merusak bagian konstruksi dengan memotong besi tangga bangunan.
“Keamanan itu bukan fasilitas tambahan, tapi kebutuhan utama. Kalau sejak awal pengembang mengabaikan ini, maka warga yang akan terus dirugikan. Proses Pembangunan juga harus diulang,” kata Amrullah (04/05/2026).
Baca juga: Perkuat Akses Pembiayaan di Nusa Tenggara Barat, BRI Finance Resmikan KC Mataram
Kekecewaan korban mencuat saat mengetahui bahwa sistem keamanan di perumahan tersebut dianggapnya jauh dari kata memadai. Menurutnya, dengan luas kawasan yang cukup besar tapi hanya terdapat tiga orang petugas keamanan yang berjaga dengan sistem shift 8 jam.
Ahmad menilai jumlah tersebut dinilai tidak rasional dan tidak sebanding dengan kebutuhan pengamanan lingkungan.
Dirinya mempertanyakan kawasan perumahan tersebut yang sama sekali tidak dilengkapi dengan kamera pengawas (CCTV). Absennya sistem pengawasan dasar ini dianggap juga menjadi indikator kuat bahwa aspek keamanan tidak menjadi prioritas utama pengembang.
Selain itu, tembok pembatas perumahan dinilai terlalu rendah dan mudah diakses dari luar diduga menjadi peluang bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk keluar masuk kawasan tanpa kontrol yang memadai.
Baca juga: 87 Persen Lahan Sawah Tak Boleh Alih Fungsi, Analis Mi6 Minta Pemprov NTB Rasional
PT Varindo Lombok Inti sebagai pengembang perumaha tersebut, mengakui bahwa terdapat kelemahan dalam sistem keamanan. Hal tersebut disampaikan saat pertemuan antara korban, pihak satpam, RT/RW, dan perwakilan pengembang. Saat itu dikonfirmasi juga bahwa kejadian pencurian itu bukan yang pertama kali terjadi di kawasan tersebut.
Ahmad Amrullah sendiri menganggap bahwa pengembang seharusnya tidak hanya fokus pada pembangunan fisik dan penjualan unit, tetapi juga bertanggung jawab terhadap aspek keamanan sebagai bagian dari pelayanan dasar kepada konsumen.
“Pemerintah daerah harus turun tangan. Kalau perlu, lakukan evaluasi menyeluruh terhadap izin pengembang. Jangan sampai masyarakat terus menjadi korban akibat kelalaian yang sebenarnya bisa dicegah,” tegasnya.
Kejadian pencurian tersebut secara resmi telah dilaporkan ke Polresta Mataram. Korban berharap pihak kepolisian dapat segera mengusut tuntas kasus tersebut sekaligus meningkatkan pengawasan di kawasan rawan.*** (Rilis: Bambang MF / Editor: Tim Redaksi).



