Forum Kepala Lingkungan Tumpahkan Uneg-Uneg, Praya Tengah Menggugat
LOMBOK TENGAH— Kegiatan Forum Kepala Lingkungan (Forking) Lombok Tengah akhirnya menjadi diskusi yang santai tapi berlangsung to the point. Dipandu oleh Ketua Forking, Lalu Ahmad Fatoni, yang memulai sesi dengan penumpahan uneg-unegnya sendiri.
Pria yang juga berprofesi sebagai MC spesialis hajatan ini mengungkapkan bahwa betapa lingkungan-lingkungan mengalami kesulitan akibat minimnya program yang menyentuh hal spesifik.
“Kelurahan tidak diberi anggaran yang fleksibel, sehingga tidak ada anggaran yang fleksibel juga untuk membangun Kota Praya yang cita-citanya adalah jadi Kota Madya. Ini membuat kami agak kesulitan memberi layanan terbaik buat masyarakat di lingkungan kami,” keluhnya.
Fatoni berpendapat, bahwa yang disebut lingkungan ini sama dengan dusun karena menurutnya Kaling pekerjaannya sama dengan Kadus.
“Tapi kami seperti dibiarkan jalan sendiri,” protesnya.
Baca juga: Forking Lombok Tengah Kecewa, 14 DPRD di Undang dan Hadir Cuma Dua: Laguk Silak Napi Yat Unik
Menanggapi hal tersebut, Ahmad Syamsul Hadi menyebutkan bahwa hitungannya untuk 84 lingkungan di Praya untuk kebersihan dan lain-lain hanya butuh 900 juta setahun.
“Ini sebenarnya kecil. Ya 1.2 meter saja untuk mendukung kerja-kerja kaling di Praya dan Praya Tengah insha Allah cukup,” ucapnya memakai istilah.
Oleh karena itu, Ketua Komisi I dari Fraksi NasDem ini berharap sinergi dari sembilan wakil dari Dapil 1 bisa membantu memperjuangkan hal tersebut. Ia sendiri juga berencana membuat agenda Ngopi Bulanan bersama para kaling Lombok Tengah yang tergabung di Forking.
“Atau mungkin pokir dari provinsi bisa membantu para kaling? Angka itu kecil buat pokir wakil ketua di DPRD NTB,” seloroh Ahmad menggoda Lalu Wirajaya yang duduk bersila disebelahnya.
Baca juga: Reses Dikemas Diskusi, Ahmad Syamsul Hadi Diminta Jadi Pembina Para Kaling
Terkait dengan harapan Kaling Lendang Jangkrik mengenai kenaikan insentif, Sekda Lombok Tengah Lalu Firman Wijaya mengatakan akan mengusahakan.
“Insentif kaling insha Allah akan diupayakan, kita carikan celahnya. Tapi untuk kendaraan operasional itu yang regulasinya belum ada. Dana pemerintah in ikan harus dipertanggungjawabkan, jika tak ada regulasi maka belum bisa kita anggarkan,” jelas Lalu Firman.
Di sela jawaban Lalu Firman, Anggota Fraksi Gerindra NTB Lalu Wirajaya berargumen tentang salah satu pertanyaan peserta mengenai adanya proyek pemerintah yang cepat rusak, misalnya jalan aspal.
“Salah satu tolok ukur jalan adalah kualitas dan mutu, karena memang sifat aspal itu tidak tahan air, beda dengan beton, itu yang jadi sebab jalan cepat rusak. Dan betul drainase juga perlu diperbaiki, besok saya akan telpon PUPR sama dengan yang saya lakukan untuk jalan Praya – Keruak yang banyak lobang,” janjinya.
Praya Tengah Protes Keras
Hal menarik terjadi saat sesi kedua tanya jawab. H Zulkfifli dari Kelurahan Gerantung yang mewakili para kaling di Praya Tengah mempertanyakan perbandingan kondisi lingkungan di Kecamatan Praya dan Praya Tengah yang menurutnya cukup kontras.
“Tidak ada yang dibanggakan di Gerantung, karena kelurahan di Praya berbeda sekali dengan kelurahan di Praya Tengah. Mohon diperhatikan. Napi beda kelurahan di Praya dan kelurahan di Praya Tengah?,” protesnya sambil disambut gelak tawa seluruh peserta.
Terkait itu, Lalu Firman menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan dan mengenai program pembangunan hanya masalah prioritas saja.
“Kondisi Praya yang terlihat bagus itu karena banyak infrastruktur di Kota Praya itu statusnya dikelola provinsi dan pusat, iye ampun solah ruen,” katanya mengakui.
Untuk Gerantung sendiri, Dewan NTB Lalu Wirajaya menjanjikan telah mempersiapkan anggaran dari pokok pikirannya di DPRD untuk diturunkan di Gerantung.
“Empat paket senilai 800 juta di Gerantung, pemilih saya 214 disana,” ucapnya.*** (Kontributor: JW).




