Baligho Ramadhan Rachmat dan Selly Bertebaran, Dr Agus Sebut Relevan Dengan Karakter Religius Masyarakat NTB
MATARAM— Dalam perspektif komunikasi politik, sebuah baligho merupakan salah satu media yang bisa sangat sarat dengan pesan dan makna sosial.
Hal tersebut disampaikan oleh pengamat politik Universitas Islam Negeri (IAIN) Mataram yang juga mantan komisioner KPU NTB, Dr. Agus, M.Si. saat memberi pendapat tentang baligho-baligho ucapan Ramadhan dari PDIP yang banyak bertebaran di Mataram.
Agus menilai pesan bahwa ucapan Ramadhan itu tidak hadir secara kebetulan.
“Ini mencerminkan watak ideologis PDI Perjuangan sebagai partai kader yang menempatkan nilai, gagasan, dan konsistensi sebagai fondasi gerak politik. Di Indonesia, lebih-lebih di NTB, Ramadhan bukan lagi sekadar ibadah, tapi peristiwa sosial. Bahasa seperti ini mudah diterima masyarakat,” ujar Agus di Mataram, Minggu (22/02/2026).
Baca juga: PDIP NTB Bersiap Suksesi? Rachmat Hidayat Beri Kode
Menurutnya, dari sudut pandang sosio kultural, ucapan selamat Ramadhan merupakan bentuk komunikasi yang relevan dengan karakter masyarakat NTB yang religius. Karena itu kata Agus, baligho tersebut tidak hanya dimaknai sebagai simbol keagamaan, tetapi juga pesan keteduhan yang menjangkau lintas kelompok.
“Ini keteduhan di ruang publik,” katanya.
Dalam konteks itu Agus menilai, Ketua PDIP NTB Rachmat Hidayat, sebagai sosok nasionalis yang mempraktikkan nilai pluralisme secara konsisten.
“Rachmat tidak hanya hadir pada momentum keagamaan umat Islam, tetapi juga kerap menyampaikan ucapan dan kehadiran pada perayaan hari besar agama lain. Semua etnis dan semua agama ada di NTB, saya melihat Pak Rachmat sudah berada di tengah-tengah itu,” pendapat Agus.
Mantan Ketua KPU Lombok Tengah ini juga mengatakan bahwa publik pasti akan menafsirkan bahwa dalam politik, memang tidak ada perilaku yang tanpa pesan.
Begitu pula dengan kehadiran Hj. Putu Selly Andayani dalam baliho Ramadhan tersebut, ia menandai jika hal itu tidak bisa dilepaskan dari posisi Selly sebagai figur yang pernah bersentuh langsung dengan dunia politik, termasuk saat maju sebagai kandidat Wali Kota Mataram pada Pilkada 2020.
“Meski berasal dari kalangan birokrat, Bu Selly juga tokoh politik. Jadi wajar jika publik menafsirkan ada proses branding,” jelasnya.
Penghormatan Nilai Keberagaman
Sementara itu secara terpisah, Rachmat Hidayat menegaskan bahwa ucapan selamat Ramadhan melalui baligho yang dilakukannya semata bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai sosial dan keagamaan yang hidup di tengah masyarakat NTB.
“Ramadhan mengajarkan kesabaran, empati, dan kebersamaan. Nilai-nilai itu sangat dekat dengan kehidupan masyarakat NTB. Karena itu, saya ingin menyampaikan pesan yang meneduhkan dan bisa dirasakan sebagai pesan bersama,” kata Rachmat.
Baca juga: Di Musancab Kota Mataram, Rachmat Hidayat Tandaskan PDIP Tolak Pilkada Lewat DPRD
Menurut Rachmat, semangat tersebut relevan dengan makna Ramadhan sebagai bulan empati dan pembelaan terhadap kaum lemah.
“Nasionalisme tidak pernah bertentangan dengan agama. Agama memberi arah moral, sementara nasionalisme menjadi ruang bersama yang mempersatukan perbedaan,” tegasnya.
Nilai itu, lanjutnya, harus tercermin dalam sikap politik yang berpihak pada persatuan, perdamaian, dan keadilan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global.
Menanggapi tafsir publik terkait kehadiran sang istri dalam baliho Ramadhan tersebut, Rachmat menegaskan bahwa ruang publik sebagai ruang dialog yang sehat, tempat setiap warga bebas menafsirkan dan memberi penilaian.
“Itu bentuk kebersamaan kami dalam keluarga saat menyampaikan pesan sosial kepada masyarakat. Kami ingin hadir menyampaikan pesan kebaikan. Selebihnya, publik tentu memiliki penilaian masing-masing, dan itu kami hormati sebagai bagian dari demokrasi,” kata Rachmat.
Rachmat menandaskan, kehadirannya di ruang publik bukan aktivitas sesaat, melainkan komitmen jangka panjang untuk terus berdialog dengan masyarakat dan merawat nilai-nilai kebangsaan.*** (Rilis: Didu / Editor: Tim Redaksi).


