Puskesmas Muncan Intensifkan Sosialisasi Pencegahan DBD
LOTENG– Kabar menggembirakan datang dari wilayah kerja Puskesmas Muncan, Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng).
Hingga memasuki pertengahan tahun 2026, Puskesmas Muncan memastikan belum menemukan kasus positif Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah pelayanannya.
Meski demikian, pihak puskesmas tetap meningkatkan kewaspadaan dan terus mengintensifkan berbagai upaya pencegahan guna mengantisipasi potensi penyebaran penyakit yang kerap muncul saat musim penghujan tersebut.
Kepala Puskesmas Muncan, Samah, mengatakan bahwa sepanjang tahun 2026 belum ada warga yang terkonfirmasi positif DBD berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.
“Selama tahun 2026 ini belum ada kasus positif. Memang pada bulan Januari lalu ada dua orang yang sempat dicurigai mengalami gejala yang mengarah ke DBD, tetapi setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium hasilnya negatif,” ujar Samah.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikator bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan mulai meningkat. Namun demikian, pihaknya tidak ingin terlena karena ancaman DBD dapat muncul sewaktu-waktu apabila upaya pencegahan tidak dilakukan secara konsisten.
DBD masih menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai masyarakat karena ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini umumnya berkembang saat lingkungan banyak terdapat genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Karena itu, Puskesmas Muncan terus mengajak masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
“Sebagai langkah preventif, Puskesmas Muncan tidak hanya mengandalkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan, tetapi juga turun langsung ke tengah masyarakat melalui berbagai kegiatan edukasi, ” ungkapnya.
Samah menjelaskan bahwa sosialisasi dan penyuluhan terkait pencegahan DBD terus dilakukan secara berkelanjutan di seluruh wilayah kerja puskesmas, termasuk melalui kegiatan posyandu yang rutin dilaksanakan di setiap dusun.
“Upaya sosialisasi pencegahan tetap kami jalankan kepada masyarakat. Penyuluhan juga terus dilakukan di seluruh posyandu agar masyarakat semakin memahami cara mencegah DBD sejak dini,” jelasnya.
Menurut dia, posyandu menjadi salah satu sarana yang efektif untuk menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat karena melibatkan berbagai kelompok usia, mulai dari ibu hamil, balita hingga lansia.
Melalui kegiatan tersebut, petugas kesehatan tidak hanya memberikan edukasi mengenai DBD, tetapi juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya agar terbebas dari potensi sarang nyamuk.
Meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus positif, Puskesmas Muncan mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa lonjakan kasus DBD dapat terjadi secara tiba-tiba apabila faktor lingkungan dan cuaca mendukung perkembangbiakan nyamuk.
Karena itu, keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah munculnya kasus DBD.
Ia berharap budaya gotong royong membersihkan lingkungan, saluran air, dan halaman rumah terus dipertahankan. Selain itu, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi mendadak, nyeri kepala, mual, muntah, atau muncul bintik-bintik merah pada kulit.
Dengan belum ditemukannya kasus positif DBD sepanjang tahun 2026, Puskesmas Muncan berharap kondisi ini dapat terus dipertahankan. Namun upaya pencegahan akan tetap menjadi prioritas agar masyarakat Kecamatan Kopang tetap sehat dan terhindar dari ancaman penyakit yang ditularkan oleh nyamuk tersebut.
“Yang terpenting adalah menjaga kesadaran masyarakat. Karena pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan. Kami akan terus melakukan edukasi dan pemantauan agar wilayah kerja Puskesmas Muncan tetap bebas dari kasus DBD,” pungkas Samah. (01)


