MTQ NTB 2026 di Lombok Tengah Diproyeksi Putar Uang Hingga Rp40 Miliar
LOTENG– Gelaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Tahun 2026 di Kabupaten Lombok Tengah dipastikan tidak hanya menjadi ajang syiar Islam dan kompetisi para qari-qariah terbaik dari seluruh daerah di NTB.
Event keagamaan terbesar di Bumi Gora tersebut juga diproyeksikan menjadi mesin penggerak ekonomi masyarakat dengan nilai perputaran uang yang diperkirakan mencapai Rp30 miliar hingga Rp40 miliar.
Pemerintah Kabupaten Loteng sebagai tuan rumah bahkan telah menyiapkan berbagai strategi agar dampak ekonomi dari penyelenggaraan MTQ dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat, mulai dari pelaku usaha kecil, pedagang kaki lima, pengelola homestay, perajin tenun, hingga sektor jasa dan transportasi.
Sekretaris Daerah Loteng, Lalu Firman Wijaya, mengatakan bahwa keberhasilan MTQ tidak hanya diukur dari suksesnya pelaksanaan acara dan prestasi yang diraih kafilah tuan rumah, tetapi juga dari seberapa besar manfaat ekonomi yang bisa dirasakan masyarakat.
“Kami menargetkan perputaran ekonomi selama MTQ bisa mencapai Rp40 miliar. Ini bukan angka yang berlebihan karena ribuan orang akan datang ke Lombok Tengah selama pelaksanaan MTQ,” ujar Firman saat konferensi pers di Kantor Bupati Loteng.
Menurutnya, MTQ tahun ini akan menghadirkan sekitar 900 peserta kafilah, ditambah dewan hakim, official, pendamping, tamu undangan, serta masyarakat yang datang untuk menyaksikan berbagai cabang perlombaan. Kehadiran ribuan orang tersebut diyakini akan menciptakan efek berganda atau multiplier effect terhadap berbagai sektor ekonomi lokal.
“Ini momentum besar bagi masyarakat Lombok Tengah. Kehadiran ribuan tamu merupakan pasar potensial yang harus dimanfaatkan secara maksimal. Karena itu, kami ingin sukses penyelenggaraan berjalan seiring dengan sukses ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Firman menjelaskan, salah satu sektor yang diperkirakan memperoleh dampak paling besar adalah sektor akomodasi. Kebutuhan tempat tinggal bagi peserta dan tamu MTQ akan meningkatkan tingkat hunian hotel, penginapan, homestay hingga rumah-rumah warga yang disiapkan sebagai lokasi pemondokan.
Dengan berlangsungnya kegiatan selama beberapa hari, kebutuhan penginapan diperkirakan meningkat drastis dibandingkan hari-hari biasa. Kondisi ini menjadi peluang emas bagi pelaku usaha perhotelan dan masyarakat yang memiliki rumah layak untuk disewakan.
Selain itu, sejumlah lokasi penginapan juga telah dipetakan untuk memastikan seluruh peserta dan tamu mendapatkan tempat tinggal yang nyaman selama berada di Loteng.
Tak hanya sektor akomodasi, pelaku usaha kuliner juga diprediksi akan menikmati lonjakan permintaan yang signifikan.
Kebutuhan konsumsi harian ribuan peserta, official, dan pengunjung akan membuka peluang besar bagi rumah makan, warung tradisional, jasa katering hingga pedagang kaki lima.
Berbagai menu khas Lombok seperti ayam taliwang, sate rembiga, plecing kangkung, beberuk terong hingga beragam jajanan tradisional diperkirakan akan menjadi pilihan favorit para tamu yang ingin menikmati cita rasa khas daerah.
“Perputaran ekonomi akan bergerak di banyak sektor. Rumah makan, jasa katering dan pedagang kecil tentu akan mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan ini,” kata Firman.
Aktivitas ribuan orang selama pelaksanaan MTQ juga akan meningkatkan kebutuhan transportasi. Mobilitas peserta dari tempat pemondokan menuju arena lomba maupun lokasi wisata dipastikan akan menghidupkan sektor jasa transportasi.
Mulai dari sopir travel, penyedia kendaraan sewa, ojek hingga pelaku usaha jasa lainnya diperkirakan akan merasakan dampak positif dari meningkatnya aktivitas ekonomi selama MTQ berlangsung.
Sebagai bentuk pelayanan kepada para peserta, Pemkab Lombok Tengah bahkan telah menyiapkan fasilitas transportasi khusus bagi setiap kafilah kabupaten/kota.
Setiap daerah akan difasilitasi empat unit mobil dan dua unit sepeda motor yang dapat digunakan selama mengikuti rangkaian kegiatan MTQ. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan mobilitas peserta berjalan lancar sekaligus memberikan kenyamanan selama berada di Loteng.
Berbagai produk khas Lombok Tengah seperti kain tenun Sukarara, kerajinan tangan, mutiara, aneka produk olahan pangan, hingga oleh-oleh khas daerah diprediksi akan menjadi incaran para tamu yang datang dari berbagai kabupaten dan kota di NTB.
Menurut Firman, MTQ merupakan kesempatan emas untuk memperkenalkan produk unggulan daerah kepada pasar yang lebih luas.
“Produk-produk lokal kita harus menjadi tuan rumah di rumah sendiri. Ini kesempatan bagi UMKM untuk menunjukkan kualitas dan daya saing produknya,” ujarnya.
Untuk memastikan manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati pelaku usaha besar, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah telah menyiapkan kebijakan khusus yang berpihak kepada pelaku usaha kecil.
Di sekitar arena utama MTQ dan sejumlah venue pendukung, pemerintah akan membangun kawasan pasar rakyat dan pameran UMKM yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menjual berbagai produk unggulan mereka.
Menariknya, stan-stan tersebut akan diberikan secara gratis kepada pelaku UMKM yang telah terdata dan terverifikasi oleh pemerintah daerah.
Langkah ini dilakukan agar perputaran uang selama MTQ benar-benar menyentuh lapisan masyarakat paling bawah.
“Kami ingin manfaat ekonomi MTQ dirasakan langsung oleh masyarakat. Karena itu, stan UMKM kami siapkan gratis bagi pelaku usaha yang sudah terakurasi,” jelas Firman.
Tidak hanya itu, di arena utama MTQ pemerintah juga akan menyediakan 10 stan khusus untuk masing-masing kafilah kabupaten/kota. Stan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menampilkan produk unggulan daerah masing-masing sekaligus menjadi sarana promosi budaya dan potensi ekonomi NTB.
Pemerintah Loteng optimistis penyelenggaraan MTQ XXXI NTB 2026 akan menjadi salah satu momentum penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Selain memperkuat syiar Islam dan ukhuwah antarumat, kegiatan ini juga diyakini mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat secara masif melalui peningkatan transaksi perdagangan, jasa, konsumsi, dan sektor pariwisata.
Dengan target perputaran uang hingga Rp40 miliar, MTQ tidak lagi dipandang sekadar agenda keagamaan tahunan, melainkan juga sebagai instrumen pembangunan ekonomi daerah yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Jika seluruh potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal, maka Loteng tidak hanya akan sukses sebagai tuan rumah penyelenggara MTQ, tetapi juga berhasil menjadikan ajang religius tersebut sebagai penggerak kesejahteraan masyarakat. (01)


