Alfamart Tutup, Ratusan Pekerja Gedor Kantor Bupati Loteng
LOTENG– Gelombang keresahan akibat penutupan sejumlah gerai Alfamart di Lombok Tengah akhirnya memuncak. Ratusan karyawan yang tergabung dalam Himpunan Karyawan Alfamart Terdampak Penutupan Toko turun ke jalan dan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di depan Kantor Bupati Loteng, kemarin.
Aksi tersebut menjadi luapan kekecewaan para pekerja yang mendadak kehilangan mata pencaharian setelah sejumlah toko ritel modern itu menghentikan operasionalnya. Banyak di antara mereka kini berada dalam kondisi sulit karena tidak lagi memiliki penghasilan tetap untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Sejak pagi hari, massa aksi mulai memadati kawasan Kantor Bupati dengan membawa spanduk dan poster berisi tuntutan agar pemerintah daerah tidak tinggal diam menghadapi persoalan yang dinilai mengancam nasib ratusan tenaga kerja lokal tersebut.
Suasana sempat memanas ketika para peserta aksi secara bergantian menyampaikan orasi. Mereka menilai penutupan toko bukan sekadar persoalan bisnis perusahaan, tetapi telah berubah menjadi persoalan sosial yang berpotensi memicu lonjakan pengangguran baru di Lombok Tengah.
Koordinator lapangan aksi, M Zainudin, mengatakan para pekerja datang dengan satu harapan besar, yakni meminta pemerintah daerah hadir memberikan solusi nyata atas kondisi yang mereka alami.
“Kami datang bukan untuk membuat kerusuhan. Kami datang membawa jeritan para pekerja yang kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba. Kami meminta pemerintah daerah jangan tutup mata terhadap nasib ratusan karyawan yang sekarang bingung mencari nafkah,” tegasnya di tengah kerumunan massa.
Menurutnya, banyak pekerja yang telah bertahun-tahun mengabdi di perusahaan ritel tersebut. Namun, penutupan gerai membuat mereka kehilangan pekerjaan dalam waktu singkat tanpa kepastian masa depan yang jelas.
“Di balik seragam yang kami pakai selama ini, ada keluarga yang harus diberi makan, ada anak yang harus sekolah, ada cicilan dan kebutuhan hidup yang tetap berjalan. Ketika toko ditutup, hidup kami ikut terguncang,” katanya.
Pantauan di lokasi menunjukkan aparat kepolisian dan Satpol PP melakukan pengamanan ketat di sekitar area demonstrasi. Meski berlangsung dalam jumlah besar, aksi tetap berjalan tertib dan kondusif. Massa juga tampak bergantian menyampaikan aspirasi melalui pengeras suara sambil meminta pemerintah segera membuka ruang dialog.
Dalam tuntutannya, para pekerja mendesak Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah segera melakukan mediasi dengan pihak perusahaan agar hak-hak karyawan tetap dipenuhi. Selain itu, mereka juga meminta pemerintah mencarikan solusi lapangan pekerjaan alternatif bagi para pekerja terdampak.
Aksi tersebut sekaligus menjadi peringatan keras bahwa badai pemutusan mata pencaharian di sektor ritel modern bisa berdampak luas terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Jika tidak segera ditangani, situasi ini dikhawatirkan memicu bertambahnya angka pengangguran dan memperburuk kondisi sosial di daerah.
“Kami hanya ingin kejelasan. Jangan sampai kami dibiarkan berjuang sendiri setelah toko ditutup. Pemerintah harus hadir di tengah rakyatnya,” teriak salah satu peserta aksi yang disambut sorakan massa lainnya.
Zainudin juga menegaskan bahwa seluruh peserta aksi berkomitmen menjaga keamanan dan tidak melakukan tindakan anarkis. Pihaknya memastikan demonstrasi dilakukan sesuai aturan hukum yang berlaku.
“Kami tetap menjaga ketertiban, keamanan, dan mematuhi seluruh ketentuan perundang-undangan. Aspirasi ini kami sampaikan secara damai,” ujarnya.
Aksi ratusan karyawan itu pun menjadi sorotan masyarakat Lombok Tengah. Banyak pihak menilai persoalan tersebut tidak boleh dianggap sepele karena menyangkut nasib tenaga kerja lokal yang selama ini menggantungkan hidup pada sektor ritel modern.
Kini, para pekerja hanya berharap ada langkah cepat dan konkret dari pemerintah daerah sebelum gelombang pengangguran baru benar-benar menjadi ancaman serius di Loteng.
Sementara itu, Kepala DMPSTP Loteng, Dalilah menyatakan hingga sekarang pihaknya belum memiliki dekresi untuk membuka kembali alfamart atau Indomaret yang tutup. Namun demikian, pihaknya tetap akan menampung segala aspirasi dari semua karyawan.
“Semua aspirasi yang disampaikan akan menjadi dasar untuk kami bahas kembali dengan semua pihak terkait gimana solusinya, ” ujarnya. (01)


