Keracunan MBG Menjadi Atensi, Dikes Lombok Tengah Ultimatum Para SPPG

dr. Suardi, Kadikes Lombok tengah.

LOMBOK TENGAH— Kasus dugaan keracunan susu pada program MBD di Darmaji yang terjadi beberapa waktu lalu menuai banyak polemik dan sorotan. Terkini, Dinas Kesehatan Lombok Tengah sendiri mencatat terdapat puluhan siswa yang diduga mengalami keracunan.

Atas perihal tersebut, Kepala Dikes Lombok Tengah, Suardi mengultimatum para pengelola dapur MDG di Lombok Tengah. Menurutnya pencegahan ini memerlukan pengawasan ketat.

“Pengawasan ketat di seluruh rantai produksi, meliputi pemilihan bahan segar, penyimpanan suhu tepat, higienis (steril) penjamah makanan, menggunakan Alat Pelindung Diri atau APD dan proses masak matang sempurna dan distribusi cepat,” katanya.

Selain itu, dirinya juga menyarankan dapur MBG untuk lebih memperhatikan kandungan gizi sesuai petunjuk tekhnis.

“Pada prinsipnya, bahanan makanan harus dibersihkan, pisahkan, masak dan dinginkan dan itu wajib diterapkan untuk menjamin keamanan pangan. Disamping itu kandungan gizi seimbang tercukupi sesuai petunjuk teknis,” jelas Suardi.

Ia mengungkapkan, selama program MBG berjalan di Lombok Tengah, terdapat 44 anak yang diduga mengalami keracunan.

“Yang tercatat di Darmaji 39 orang dan di Pringgarata 5 orang,” bebernya.

Selain itu, Suardi menekankan kepada seluruh dapur MBG untuk memiliki sertifikat penjamah makanan.

“Kekhawatiran kita bisa terjadi keracunan akibat tidak memiliki sertifikat penjamah makanan dan tidak tau tara cara penyajian makanan yang benar dan sehat,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa sampai saat ini sudah ada sebanyak 121 dapur MBG di Lombok Tengah yang sudah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi atau SLHS.

“Pengurusan izin SLHS ini hampir tidak ada biaya, hanya biaya pemeriksaan kualitas air dan persyaratan lainnya dan itu sesuai yang diatur dalam Peraturan Daerah atau Perda,” demikian Suardi.*** (03/MGR).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup