Kasus PPJ, Kadis Perijinan, Mantan Kepala Bapenda Dan Mantan Bendahara di Tahan

Para tersangka saat di bawa menggunakan mobil tahanan Kejaksaan Loteng

LOTENG— Kejaksaan Negeri (Kejari) Lombok Tengah resmi menahan tiga tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi pembayaran insentif pemungutan Pajak Penerangan Jalan (PPJ) pada Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Tengah.

Penahanan dilakukan usai proses pemeriksaan intensif selama kurang lebih tiga jam di ruang penyidik Kejari Praya, kemarin.

Tiga tersangka yang telah ditetapkan masing-masing berinisial LK, mantan Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lombok Tengah periode 2019–2021 sekaligus mantan Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), J, pejabat yang kini menjabat sebagai Kepala DPMP2TSP Lombok Tengah dan pernah menjabat Kepala Bapenda pada 2021 serta LBS, Bendahara Pengeluaran Bapenda Lombok Tengah periode 2019–2021.

Usai menjalani pemeriksaan, ketiganya langsung digiring menuju mobil tahanan dengan mengenakan rompi khusus dan dipindahkan ke Rutan Kuripan untuk menjalani masa penahanan.

Kepala Kejaksaan Negeri Loteng,Putri Ayu Wulandari menegaskan bahwa penetapan ketiga tersangka telah melalui proses penyidikan dan telaah bukti yang komprehensif.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan dan alat bukti yang sah, yaitu berupa keterangan saksi, ahli, petunjuk dan surat serta barang bukti yang diperoleh penyidik, telah ditetapkan tiga orang tersangka berinisial LK, J, dan LBS,” tegasnya.

Ia menegaskan, penyidik menemukan dugaan bahwa ketiga tersangka tetap mencairkan serta menyalurkan insentif pemungutan PPJ selama periode 2019–2021, meskipun rangkaian kegiatan pemungutan yang wajib dilakukan tidak pernah dilaksanakan.

Kegiatan yang dimaksud meliputi, penghimpunan data objek dan subjek pajak, penentuan besaran pajak terutang,penagihan pajak kepada wajib pajak dan pengawasan penyetoran. Akibat dugaan perbuatan tersebut, negara diperkirakan mengalami kerugian hingga Rp1,8 miliar.

“Insentif itu tetap dicairkan tanpa kegiatan pemungutan sebagaimana ketentuan yang berlaku, sehingga mengakibatkan kerugian keuangan negara sekitar 1,8 miliar,” ujar Putri Ayu Wulandari.

Ditambahkan,proses hukum atas kasus ini akan terus berlanjut hingga seluruh rangkaian penyidikan dan pemeriksaan tambahan rampung dilakukan. Bahkan, pihak Kejari memastikan penanganan perkara dilakukan secara profesional dan transparan. (01)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup