Lombok Tengah Dalam Bayang-Bayang Bencana Ekstrim 

LOTENG – Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) selama dua hari terakhir berubah menjadi bencana besar.

Hingga kemarin banjir dilaporkan menerjang 12 desa di tiga kecamatan, dengan total ribuan rumah terdampa. Angka yang disebut sebagai rekor tertinggi sepanjang periode cuaca ekstrem tahun ini.

Data resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Loteng mencatat, wilayah terparah berada di Kecamatan Praya Timur dengan delapan desa terdampak. Sementara sisanya tersebar di Kecamatan Pujut dan Praya Barat.

Kepala Pelaksana BPBD Loteng, H. Ridwan Makruf, mengungkapkan bahwa kondisi di lapangan masih dinamis dan berpotensi meluas.

“Dari hasil pantauan tim BPBD, banjir terjadi di 12 desa tersebar di tiga kecamatan,” ujarnya,

Adapun desa-desa yang terdampak meliputi,Desa Bangket Parak,Desa Bilelando, Desa Landah,Desa Mujur, Desa Bleke,Desa Nandus, Desa Semoyang,Desa Pengembur,Desa Kuta,Desa Tanak Rarang,Desa Setanggor Desa Kidang dan desa lainnya.

Sebagian wilayah masih terus diguyur hujan hingga hari ini . Bahkan, beberapa desa disebut belum menyampaikan laporan lengkap, sehingga jumlah titik banjir diperkirakan masih bisa bertambah.

Jumlah rumah yang terdampak banjir kali ini sebagai yang paling luas selama musim hujan ekstrem 2025–2026. Sebagai perbandingan, sejak cuaca ekstrem melanda pada 14 Desember 2025 hingga Januari 2026, total rumah terdampak tercatat sekitar 750 unit.Ironisnya, jumlah tersebut kini terlampaui hanya dalam hitungan dua hari hujan deras.

“Rumah terdampak banjir kali ini sebanyak 1054 KK. Jumlah ini lebih banyak dari jumlah rumah terdampak banjir yang kita tangani sejak cuaca ekstrem berlangsung dari rentang waktu mulai tanggal 14 Desember 2025 lalu hingga Januari 2026,” tegas Ridwan.

Luapan air merendam permukiman warga, memutus akses jalan lingkungan, serta mengganggu aktivitas ekonomi dan pendidikan. Di beberapa titik, ketinggian air dilaporkan mencapai lutut hingga pinggang orang dewasa.

Bahkan, warga terlihat berupaya menyelamatkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi. Sebagian lainnya memilih mengungsi ke rumah kerabat atau fasilitas umum yang lebih aman.

Melihat kondisi hujan ini, BPBD bersama aparat desa dan relawan terus melakukan pendataan serta pemantauan kondisi debit air. Fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga, terutama kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas.

Dengan prakiraan hujan yang masih berpotensi turun di sejumlah wilayah Lombok Tengah, BPBD mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan banjir susulan maupun tanah longsor di daerah perbukitan.

Kondisi drainase yang tidak mampu menampung debit air besar serta meluapnya aliran sungai menjadi faktor utama meluasnya genangan. Jika hujan kembali mengguyur dengan intensitas tinggi, bukan tidak mungkin jumlah desa terdampak akan bertambah dalam 24 jam ke depan.

BPBD kini memperkuat koordinasi lintas sektor bersama TNI, Polri, pemerintah kecamatan, serta relawan kebencanaan untuk mempercepat respons darurat. Distribusi bantuan logistik seperti makanan siap saji, air bersih, dan perlengkapan kebersihan mulai disiapkan.

Banjir kali ini menjadi peringatan keras bahwa dampak cuaca ekstrem kian tidak terduga dan meluas. Pemerintah daerah pun dihadapkan pada tantangan besar memperkuat mitigasi jangka panjang—mulai dari normalisasi drainase, pengelolaan daerah aliran sungai, hingga peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

Sementara, Kepala Desa Kidang, Tarnadi, turun langsung mendampingi Bhabinkamtibmas, Babinsa, kepala dusun, serta warga meninjau Dusun Batu Berungguk—salah satu wilayah terdampak paling parah. Selain Dusun Batu Berungguk, banjir juga melanda Dusun Peras dan Dusun Mekar Sari.

Adapun jumlah warganya terdampak dengan rincian, Dusun Peras sebanyak 146 KK, Dusun Batu Berungguk 90 KK dan Dusun Mekar Sari 50 KK

Tak hanya rumah warga yang terendam, lanjutnya kerugian ekonomi juga cukup besar. Udang vaname dan ikan air tawar milik warga dilaporkan hanyut terbawa arus. Belasan ton garam yang disimpan di gudang penyimpanan ikut terendam, menyebabkan kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Meski demikian, kondisi air dilaporkan mulai berangsur surut sekitar pukul 23.45 Wita.

“Alhamdulillah airnya berangsur surut. Semoga kondisi seperti ini tidak terulang lagi,” ujar Tarnadi.

Terpisah, Kepala Desa Kuta, Lalu Mirate, mengungkapkan banjir merata di 12 kekadusan di wilayahnya.

“Mudah-mudahan ada harapan sembako. Karena masyarakat gak bisa keluar untuk berbuka puasa dan segala macamnya,” ujarnya.

Genangan air dan lumpur menutup akses keluar masuk rumah warga. Mereka kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, terlebih saat menjalankan ibadah puasa.

Selain kebutuhan sembako, warga juga membutuhkan material bangunan seperti semen dan pasir untuk memperbaiki tembok rumah yang rusak akibat hantaman batu.

Dari video yang beredar di media sosial, banjir parah tampak terjadi di Dusun Mengalung. Air berwarna cokelat mengalir deras hingga ke halaman rumah warga. Bahkan, seorang warga negara asing terlihat dievakuasi oleh masyarakat setempat.

Tak jauh dari kawasan Sirkuit Mandalika, Dusun Rangkap 2 juga terdampak cukup parah. (01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup