Komisi III DPRD Ki Agus Soroti Ruwetnya Jalur Biao, Nasrullah Anggap Kayak Tempat Parkir Pasar Senen: “Resiko Dampak Kecelakaan Bisa Fatal”
LOMBOK TENGAH— Area Taman Biao selama ini dikenal sebagai salah satu pintu masuk utama Kota Praya sebagai jalur penting mobilitas kendaraan antar kota antar provinsi. Posisi jalan lingkar ini sangat vital sebab kendaraan-kendaraan tonase besar dari arah Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur menuju ke Mataram atau Pelabuhan Lembar atau sebaliknya sering parkir persis di lajur sisi Taman Biao.
Kecelakan salah satu truk Fuso bermuatan jagung tujuan Surabaya pada Rabu (06/05/2026) kemarin karena rem blong hingga menabrakkan diri ke plang reklame untuk berhenti darurat telah membuka mata banyak orang betapa Biao ini bisa menjadi area rawan.
Baca juga: Komisi III DPRD Loteng Dorong Regulasi ISP.
Salah satu pengusaha transportasi Lombok Tengah, Nasrullah, menyayangkan pemerintah yang seakan tidak peduli dengan kondisi lalu lintas di jalur Biao tersebut.
“Biao itu sudah kayak tempat parkir di Pasar Senen, truk-truk besar parkir setiap hari. Ditambah jalur Biao itu penuh dengan pedagang, POM Bensin, dan juga kawasan pendidikan (Tampar Ampar). Polisi berjaga aja ndak ada? Bingung saya,” kata Cuk Loh, sapaan akrabnya.
Di jalur lingkar masuk satu arah Kota Praya ini memang tidak punya pospol atau pos jaga polisi. Disamping itu keruwetan juga disumbang oleh lajur dari barat ke Mujur (Keruak) akan bersilang dengan kendaraan dari arah Kopang masuk Kota Praya, sebab hanya memakai satu jalur.
“Saya ndak ngerti, kenapa truk-truk itu dibolehkan parkir disana. Apalagi kalau ada yang berhenti beli buah, eh masih ada kendaraan keluar Pom Bensin. Marak ndekn bedowe pemerentah Biao tiye jak, ape porokn perhubungan ni,” keluh Nasrullah dengan nada protes.
Menanggapi situasi Biao, Sekretaris Komisi III DPRD Lombok Tengah, Ki Agus Azhar, meminta Pemda Lombok Tengah khususnya Dinas Perhubungan untuk bisa segera berkoordinasi dengan instansi terkait seperti kepolisian untuk menertibkan kawasan Biao.
“Memang Biao ini unik, satu-satunya tempat paling ruwet di Praya. Apalagi disana kawasan pendidikan, bahaya bagi para pelajar jika ini tidak dirapikan. Pemprov NTB dan Pemda Lombok Tengah harus koordinasi, karena itu jalan provinsi dan juga kabupaten,” kata Ki Agus.
Menurutnya, penataan jalur dilokasi tersebut wajib dilakukan untuk mengurangi kemacetan dan resiko kecelakaan dari dampak seperti insiden truk Fuso tersebut. Ketiadaan Trafic Light juga dianggapnya menjadikan arus kendaraan di Biao menjadi sering kacau.
“Kita contohkan Lombok Barat, walaupun tidak sebesar itu tapi untuk jalur Biao perlu didesain ulang bundarannya,” cetusnya.
Mantan Kades Barabali ini berpendapat, penataan Biao ini menjadi sangat penting sebab merupakan gerbang utama masuk Kota Praya yang sekaligus menjadi citra etalase kabupaten.
“Insha Allah, nanti kita akan sampaikan ke dinas perhubungan. Bila perlu kita sampaikan di paripurna. Laguk masen sak meni-meni masih harus lek paripurna, ya Allah. Masen ndek tao gawek sak meni-meni,” tandasnya.*** (Kontributor: JW).


