Pangkas Gizi Buruk Lombok Tengah Toreh Catatan Spektakuler, dr Nasrullah: “Kita Sudah Lampaui Ambang Batas Nasional”
LOMBOK TENGAH— Angka stunting di Lombok Tengah mengalami penurunan yang cukup tajam dalam kurun waktu enam tahun terakhir semenjak 2018 lalu. Ini menandai babak baru keberhasilan pemerintah dalam pengentasan gizi buruk.
Dalam data pemerintah, di tahun 2018 sebanyak satu dari tiga balita di Lombok Tengah mengalami stunting. Ini artinya 31,05 persen dari seluruh balita di kondisi gizi buruk. Namun angka itu berubah tajam enam tahun kemudian.
Dinas Kesehatan berhasil menurunkan angka itu menjadi 9,11 persen pada Maret 2026 ini, sebuah penurunan drastis sebagai hasil dari usaha dan kerja pemerintah Lombok Tengah.
“Sempat menyentuh 37 persen, sekarang jauh turun,” ungkap Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) pada Dinas Kesehatan Lombok Tengah, dr Nasrullah.
Baca juga: Keracunan MBG Menjadi Atensi, Dikes Lombok Tengah Ultimatum Para SPPG
Bagaimana Perubahan Cepat Ini Bisa Tercapai?
Melihat peta demografi Lombok Tengah, wilayah yang terdiri dari wilayah pertanian dan pantai ini punya potensi yang cukup. Salah satunya terkait dengan mayoritas penduduk yang berusia produktif. Menjadi tidak gampang untuk layanan kesehatan karena tantangan juga ada di infrastruktur pendukung
Namun rencana yang matang, fokus, dan berlapis kemudian menjadi strategi dalam menjalankan program pengentasan gizi buruk dan stunting tersebut.
“Banyak yang mengartikan stunting itu cuma masalah anak dengan tubuh pendek, itu tidak salah tapi belum lengkap. Ada hal yang jauh lebih kita waspadai, yaitu kerusakaan permanen di otak dan tubuh,” kata dr Nasrullah.
Menurutnya, pengawalan kelompok perempuan semenjak remaja hingga ibu hamil menjadi perhatian penuh. Ini untuk memastikan tingkat ketercukupan gizi itu dimulai bahkan dari sebelum bayi direncanakan untuk lahir.
“Komitmen kita bersama bupati dan seluruh OPD terkait membuat target bisa kita capai, bahkan melampaui target nasional yang 14 persen. Sekarang di seluruh puskesmas kita sudah punya alat ukur standar yang membuat kita punya data ril terkait itu,” ujarnya.
Target Berikutnya
Untuk lebih mengintensifkan program, Dikes Lombok Tengah membeberkan juga tentang pencegahan dan penanganan yang menjadi dua hal lanjutan.
“Untuk penanganan tentu dinas kesehatan yang langsung kerjakan, kalau pencegahan itu kita kolaborasi dengan seluruh pihak OPD termasuk masyarakat,” kata dr Nasrullah.
Selain itu pihaknya juga melakukan intervensi secara spesifik dengan sasaran para remaja puteri dan ibu-ibu hamil. Sedangkan secara sensitif dengan memperhatikan faktor-faktor tidak langsung seperti air bersih, sanitasi, kelayakan rumah untuk di huni, termasuk kondisi ekonomi keluarga tersebut.
“Untuk yang spesifik ini misalnya para remaja puteri kita support dengan tablet tambah darah. Ibu-ibu hamil kita pantau dan kita wajibkan untuk periksa kehamilan minimal enam kali sesuai prosedur dan pemberian makanan tambahan,” jelasnya.
Baca juga: Kadikes Loteng Pastikan Rumah Singgah Layak di Bali
Untuk kelompok ibu menyusui, pihaknya menekankan supaya bayinya mendapat ASI eksklusif (ASI murni, non produk pabrikasi) selama enam bulan disertai imunisasi dan pemberian makanan tambahan bagi anak dengan gizi kurang.
Kini pemerintah Lombok Tengah memasang target yang lebih, yakni angka penurunan bisa mencapai 9 persen ke bawah. Fokus penanganan mulai diintesifkan di wilayah kecamatan dengan kasus stunting yang masih dianggap tinggi.
“Kita sekarang sudah urutan ketiga di NTB. Ini hasil kerja kita semua, termasuk rekan-rekan kader di bawah hingga tokoh masyarakat. Alhamdulillah,” demikian dr Nasrullah.*** (Editor: Tim Redaksi).



