Komitmen Setengah Hati

Ilustrasi banjir (photo dari Youtube).

Oleh: Gede Sulye Jati

Gede Sulye Jati, pernah aktif di NGO Local Initiative for OSH Network (Lion) Indonesia – Bandung, sebuah organisasi yang bergerak di issue-issue perburuhan dan kesehatan kerja. Mantan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran dan pendiri Liga Mahasiswa NasDem Jawa Barat ini sekarang menjadi TA di Fraksi NasDem DPRD Lombok Tengah.

Alkisah pada gelaran Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Diego Armando Maradona diberikan kepercayaan sebagai pelatih timnas Argentina. Berbekal kepercayaan tinggi, predikat Maradona sebagai legenda dunia, dan sebuah tim berisi pemain-pemain top dunia, maka wajar jika banyak yang menjagokan Argentina.

Siapa yang tak berdecak melihat Messi, Tevez, Di Maria, Aguero, dan sederet bintang lainnya bersatu di bawah satu bendera. Itu gambaran awal.

Babak penyisihan grup dimulai, hingga tanpa disangka Argentina remuk redam dan angkat koper di babak 16 besar. Dunia kaget, siapa yang sangka raksasa roboh di awal. Ada apa dengan Argentina?

Banyak yang mengatakan Maradona luar biasa sebagai pemain, tapi tak cocok menjadi pelatih. Ini ada benarnya juga, sebab kenyataan memang seperti itu.

Saya bukan pengamat sepakbola yang handal, sekedar penikmat bola saja. Namun dari sempitnya kemampuan kacamata saya, ada hal menarik Argentina di bawah asuhan Maradona. Si Tangan Tuhan terlihat memang hampir tidak sebagai pelatih, dia seperti hanya mengumpulkan pemain dan menyuruhnya bermain.

Nyaris tanpa strategi, hanya bermodal pemain hebat. Bermain mode autopilot, akibatnya ya babak belur. Ini menarik ketika saya mencoba mengkorelasikannya dengan pariwisata dan pengelolaan lingkungan Lombok Tengah.

Raung Tangis Puteri Mandalika

Lombok (tengah) sungguhlah beruntung, Tuhan memberinya modal berupa sumber daya alam yang luar biasa cantik. Tak perlulah saya uraikan, karena ini sudah mendunia (katanya).

Namun kondisinya seperti timnas Argentina, malah nyaris seperti tanpa pelatih. Apa yang pernah dilakukan oleh ‘Maradona’ Lombok Tengah, tak ada yang luar biasa. Kering seperti tak ada ide dan inovasi baru. Kecuali pola-pola rutin dan selebihnya hanya membonceng di kegiatan Pemerintah Provinsi atau program Pemerintah Pusat.

Tapi siapa bilang pariwisata Lombok Tengah tidak bergerak maju. Betul ia bergerak maju, cuma lambat. Amat lambat jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain.

Lombok Tengah bagaikan kumpulan pemain bola hebat yang bermain tanpa strategi, hanya dilepas di tengah lapangan dan bermain sesukanya. Seolah-olah pelatihnya berkata, “Ini pantai dan silahkan saja menikmatinya.”

Dan ya sudah, itu saja. Niat mengelola memang seperti terlihat setengah hati, mau tapi tidak mau. Apa ini faktor komitmen ‘pelatih’ yang setengah hati? Entahlah, sebab Maradona juga pemain hebat. Tapi jeblok sebagai pelatih.

Tidak jauh berbeda jika berbicara tentang bagaimana pengelolaan sampah di kabupaten ini. Jika Anda jalan-jalan di seputar Lombok Tengah ini, sepanjang jalan raya tidak akan sulit Anda menemukan tumpukan sampah yang bertumpuk-tumpuk tanpa terurus di pinggir jalan.

Ini bukan pemandangan luar biasa, mungkin sudah di anggap biasa.

Dalam banyak kesempatan, kita akan sering menemukan bagaimana Pemda Lombok Tengah begitu serius berbicara tentang pengelolaan lingkungan, khususnya sampah. Namun mengaplikasikan narasi-narasi itu tidak setali tiga uang dengan gerak nyatanya.

Berapa truk sampah yang bisa di sebut laik operasi? Berapa TPS (Tempat Pembuangan Sementara) sampah yang ada? Maka tak heran jika kemudian tumpukan sampah menjadi mudah kita temukan di sembarang tempat.

Penataan lingkungan dan kebersihannya merupakan ‘aroma’ pertama dari etalase pariwisata, jika itu tidak terurus maka bagaimana kita akan menjual keindahan dan kenyamanan?

Berbusa-busa berbicara tentang kesadaran masyarakat tidak akan berjalan baik jika kesadaran pemerintah untuk mendukung dengan fasilitas juga tidak dilakukan. Ini kurang lebih seperti analogi menyuruh siswa belajar tanpa pernah memberikan mereka buku.

Tahun 2025 merupakan tahun yang berat untuk lingkungan di Lombok Tengah. Keadilan ekologis nyaris seperti hanya menjadi narasi diskusi. Tidak ada gelagat untuk menanggapi serius.

Kita bisa melihat pelbagai peristiwa dan membaca dalam banyak berita, wilayah utara dan terutama selatan rusak karena investasi gila-gilaan. Korporasi seperti cuek tidak ambil pusing, terus saja mencacah wilayah.

Namun kita harus juga jujur juga, ada sebagian masyarakat pun ikut ambil bagian sebagai penyebab kondisi alam menjadi rusak. Atas alasan kemiskinan, mereka menggunduli bukit untuk bertanam dan menggali gunung tambang ilegal.

Akibatnya banjir seperti tak putus, walau mungkin belum separah Aceh dan beberapa provinsi di Sumatera. Namun lonceng peringatan alam itu terdengar kuat berdentang, tangis Puteri Mandalika seperti terjebak dalam keserakahan.

Beberapa suara masyarakat mulai terdengar, gelisah dan marah. Namun tanggapan pemerintah, baik itu kabupaten maupun provinsi, seperti saling berbalas pantun saja. Tak ada aksi, pengelolaan lingkungan seperti autopilot.

Masyarakat harus lebih proaktif. Kita tidak bisa mendiamkan pengerusakan demi pengerusakan menari telanjang di depan mata. Masa depan Lombok Tengah ada dari saat ini. Jangan sampai kita mewariskan bencana untuk anak cucu nanti.

Ini memang catatan untuk mengkritisi, walau boleh saja Anda menganggap tak sepenuhnya kritis. Tapi terlepas dari itu, hal yang menjadi catatan akhir saja adalah bahwa komitmen menjadi sebuah kata yang memang harus dipertanyakan.***

 

*Kolom Citizen Journalism merupakan ruang yang disediakan oleh Jurnal Mandalika kepada publik dalam ikut berpartisipasi menyumbangkan opininya lewat tulisan. Tim redaksi berhak menyunting tulisan tanpa mengurangi maksud dan tujuan penulis. Semua isi tulisan sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup