Kantor Pusat Baru dari Lahan Kosong: Urutan Pekerjaannya

Pembangunan kantor pusat dengan penyedia struktur, mekanikal elektrikal, dan interior yang terpisah berisiko menimbulkan masalah koordinasi serta saling lempar tanggung jawab. Menggunakan jasa konstruksi terintegrasi dapat meminimalkan kesalahan antarpekerjaan, menghindari pembongkaran ulang, dan mengurangi biaya tambahan.

Lahan sudah dibeli, arsitek sudah ditunjuk, dan anggaran sudah disetujui direksi. Perusahaan lalu menender pekerjaan struktur, menyusul mekanikal elektrikal, lalu interior di tahap akhir. Membangun gedung kantor dengan tiga penyedia terpisah terdengar rapi di atas kertas. Masalahnya muncul tepat di sambungan antar pekerjaan.

Sambungan itu jarang diawasi siapa pun. Penyedia pertama merasa tugasnya selesai, penyedia kedua menerima kondisi apa adanya. Ketika ada yang tidak cocok, keduanya menunjuk pihak lain.

Biayanya muncul dalam bentuk pembongkaran ulang. Dinding yang sudah diplester dibobok untuk jalur kabel yang terlewat. Penyedia Layanan Konstruksi dan Bangunan yang menangani beberapa lapis sekaligus menutup celah itu lebih awal.

Membangun Gedung Kantor Berjalan dalam Lima Lapis

Urutannya Tetap, yang Berubah Hanya Tumpang Tindihnya

Lima lapis pekerjaan selalu berjalan dalam urutan yang sama. Pekerjaan persiapan dan pondasi, struktur, selubung bangunan, instalasi mekanikal elektrikal, lalu pekerjaan interior dan furniture. Urutan ini tidak bisa dibalik tanpa konsekuensi.

Yang membedakan satu proyek dari lainnya adalah seberapa banyak lapis yang berjalan bersamaan. Proyek yang terburu-buru memaksa tumpang tindih lebih besar. Tumpang tindih itu sah, asalkan titik serahnya disepakati tertulis.

Lapis yang Paling Sering Tertukar Urutannya

Kesalahan paling umum terjadi antara lapis keempat dan kelima. Pekerjaan interior dimulai sebelum pengujian instalasi tuntas. Plafon tertutup, lalu kebocoran pipa baru ketahuan sebulan kemudian.

Perizinan Berjalan Paralel, Bukan Menunggu Giliran

Izin Membangun di Depan, Kelaikan Fungsi di Belakang

Dua dokumen berbeda mengapit seluruh rangkaian pekerjaan. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021 mensyaratkan persetujuan bangunan gedung diperoleh sebelum pelaksanaan konstruksi dimulai. Di ujung lain, dokumen kelaikan fungsi menentukan kapan gedung boleh ditempati.

Keduanya menuntut gambar kerja yang konsisten dengan kondisi lapangan. Karena itu pencatatan perubahan harus berjalan sejak hari pertama. Menyusunnya di akhir proyek berarti menelusuri ulang pekerjaan yang sudah tertutup.

Titik Serah Antar Disiplin Paling Rawan Lepas

Lima Sambungan yang Perlu Disepakati Tertulis

Setiap pergantian penyedia menciptakan satu titik serah. Kelima titik berikut paling sering menimbulkan perselisihan:

• Struktur ke mekanikal elektrikal, menyangkut posisi dan ukuran lubang tembus pada balok.

• Selubung bangunan ke instalasi, menyangkut penetrasi pipa yang menembus dinding luar.

• Instalasi ke pekerjaan interior, menyangkut kapan plafon boleh mulai ditutup.

• Interior ke furniture, menyangkut titik daya dan jalur data pada tiap posisi kerja.

• Seluruh pekerjaan ke pengujian sistem, menyangkut siapa yang menyiapkan berita acaranya.

Titik pertama paling mahal bila terlewat. Membobok balok struktur setelah beton mengeras menuntut kajian tersendiri. Lubang tembus seharusnya sudah tertanam sejak pengecoran.

Keputusan yang Harus Diambil Lebih Awal dari Dugaan

Pilihan yang Mengunci Pekerjaan di Belakangnya

Beberapa keputusan terlihat seperti urusan akhir, padahal menentukan pekerjaan di tahap awal. Dua di antaranya paling sering terlambat:

• Jumlah posisi kerja dan tata letaknya, karena menentukan kebutuhan daya serta titik pendingin.

• Jenis sistem pendingin yang dipakai, karena menentukan ruang yang harus struktur sediakan.

Menunda keduanya sampai tahap interior berarti menyesuaikan diri dengan bangunan yang sudah jadi. Hasilnya hampir selalu kompromi, bukan pilihan yang paling tepat.

Menyusun Tahapan Membangun Gedung Kantor dari Lahan Kosong

Urutan Kerja yang Bisa Anda Jalankan

Rangkaian berikut menjaga agar titik serah tidak lepas:

1. Tetapkan kebutuhan ruang dan jumlah penghuni sebelum desain dimulai.

2. Urus persetujuan bangunan gedung berbarengan dengan penyusunan gambar kerja.

3. Kunci jenis sistem pendingin dan kebutuhan daya sebelum struktur dicor.

4. Sepakati titik serah antar disiplin secara tertulis di dalam kontrak.

5. Jadwalkan pengujian instalasi sebelum pekerjaan penutup dimulai.

6. Himpun berkas pengujian dan gambar terbangun untuk pengurusan kelaikan fungsi.

Langkah keempat yang paling sering dilewati. Padahal satu halaman kesepakatan di awal menghemat berminggu-minggu perdebatan di tengah proyek.

Ringkasnya, pekerjaan dari lahan kosong jarang gagal pada bagian teknisnya. Ia tersendat di sambungan antar pekerjaan yang tidak ada pemiliknya. Semakin sedikit pergantian penyedia, semakin sedikit sambungan yang perlu Anda awasi.

Terra by Trimitra menangani pekerjaan sipil, mekanikal elektrikal, interior, sampai furniture dalam satu tim. Komponen furniture diproduksi di workshop sendiri, sehingga penyesuaian dimensi bisa berjalan seiring pekerjaan lapangan. Bagi perusahaan yang sedang menyiapkan kantor pusat baru, Kontraktor Kantor Jakarta Selatan yang memegang beberapa disiplin sekaligus mengurangi jumlah titik serah yang perlu diawasi.

Pertanyaan Seputar Pembangunan Kantor Baru

1. Kapan perizinan sebaiknya mulai diurus?

Sebelum pelaksanaan konstruksi dimulai, dan berjalan berbarengan dengan penyusunan gambar kerja.

2. Apakah pekerjaan interior bisa dimulai sebelum instalasi selesai diuji?

Sebaiknya tidak, karena penutupan plafon membuat perbaikan instalasi jauh lebih mahal.

3. Apa yang paling sering memicu perselisihan antar penyedia?

Titik serah yang tidak disepakati tertulis, terutama soal lubang tembus pada struktur.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Tutup