Soal Kereta Gantung Gunung Renjani, Pemda Nurut Kebijakan Provinsi 

LOTENG–Rencana pembangunan kereta gantung di kawasan Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, kembali menjadi perhatian publik.

Proyek wisata yang sebelumnya sempat mendapat dukungan kini menuai penolakan dari sejumlah pihak, terutama karena dinilai berkaitan erat dengan kawasan yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal masyarakat setempat.

Wakil Bupati Loteng,HM Nursiah menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap melihat potensi besar kawasan Karang Sidemen sebagai destinasi wisata unggulan. Namun, seluruh rencana pembangunan tetap harus mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk nilai budaya dan sejarah yang melekat di kawasan tersebut.

“Lombok Tengah sangat melihat berdasarkan potensi yang ada. Tetapi tetap mempertimbangkan sejarah dan budaya yang menjadi hal penting dalam setiap kebijakan pembangunan,” ujar Wakil Bupati Lombok Tengah.

Menurutnya, perubahan sikap terhadap rencana pembangunan kereta gantung merupakan bagian dari proses evaluasi yang wajar. Pemerintah harus mendengar berbagai masukan dari masyarakat, tokoh adat, hingga hasil kajian teknis dan sosial sebelum mengambil keputusan final.

“Dengan rencana kereta gantung yang semula setuju kemudian sekarang ada penolakan, tentu ada kebijakan tersendiri berdasarkan kajian-kajian yang dilakukan,” jelasnya.

Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah tetap mengikuti arahan dan kebijakan Pemerintah Provinsi NTB sebagai pihak yang memiliki kewenangan lebih luas terhadap proyek tersebut. Koordinasi antara pemerintah daerah dan provinsi terus dilakukan agar setiap keputusan yang diambil tidak menimbulkan polemik berkepanjangan di tengah masyarakat.

“Kami di daerah tetap mengikuti arahan dari provinsi,” tambahnya.

Karang Sidemen sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan dengan panorama alam yang indah di kaki pegunungan Rinjani. Kawasan ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata alam dan petualangan. Namun di sisi lain, masyarakat setempat juga memiliki keterikatan kuat terhadap nilai budaya dan sejarah yang diwariskan turun-temurun.

Karena itu, muncul kekhawatiran bahwa pembangunan skala besar seperti kereta gantung dapat mengganggu keseimbangan lingkungan, adat, hingga situs-situs yang dianggap sakral oleh masyarakat. (01)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup